LITERASI HUMANISTIK MELALUI DIKSI DAN MAKNA KONOTATIF DALAM PUISI “LAGU BIASA” KARYA CHAIRIL ANWAR: IMPLIKASI BAGI PEMBELAJARAN SASTRA
Abstract
Abtrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman terhadap pilihan kata dan makna konotatif dalam puisi sebagai sarana mengembangkan kepekaan bahasa, emosi, dan nilai-nilai kemanusiaan peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan diksi dan makna konotatif dalam puisi “Lagu Biasa” karya Chairil Anwar serta menjelaskan implikasinya bagi penguatan literasi humanistik dalam pembelajaran sastra. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Data penelitian berupa kata, frasa, dan larik puisi yang mengandung diksi denotatif dan konotatif. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, pembacaan intensif, pencatatan, dan pengelompokan data, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chairil Anwar menggunakan diksi yang sederhana, padat, dan ekspresif untuk menggambarkan pertemuan, ketertarikan, kekaguman, dan pergolakan batin tokoh lirik. Makna konotatif tampak pada ungkapan “samudra jiwa sudah selam berselam”, “rumput kering terus menyala”, dan “darahku terhenti berlari”. Ungkapan tersebut memperkuat kedalaman emosi dan nilai estetis puisi. Dalam pembelajaran sastra, analisis diksi dan makna konotatif dapat digunakan untuk melatih kemampuan menafsirkan bahasa figuratif, membaca secara reflektif, memahami pengalaman emosional, dan mengembangkan kepekaan terhadap nilai kemanusiaan.
Kata kunci: literasi humanistik; diksi; makna konotatif; puisi; pembelajaran sastra
Abstract
This study is motivated by the importance of understanding word choice and connotative meaning in poetry as a means of developing students’ linguistic sensitivity, emotional awareness, and appreciation of human values. It aims to analyze diction and connotative meaning in Chairil Anwar’s poem “Lagu Biasa” and to explain their implications for strengthening humanistic literacy in literary learning. This study employed a descriptive qualitative method with a stylistic approach. The data consisted of words, phrases, and poetic lines containing denotative and connotative diction. The data were collected through a literature review, intensive reading, note-taking, and classification, and were analyzed through data reduction, presentation, interpretation, and conclusion drawing. The findings indicate that Chairil Anwar employs simple, concise, and expressive diction to portray encounter, attraction, admiration, and the inner emotional struggle of the lyrical speaker. Connotative meanings are evident in expressions such as “samudra jiwa sudah selam berselam,” “rumput kering terus menyala,” and “darahku terhenti berlari.” These expressions intensify the emotional depth and aesthetic quality of the poem. In literary learning, the analysis of diction and connotative meaning can be used to develop students’ ability to interpret figurative language, engage in reflective reading, understand emotional experiences, and cultivate sensitivity to human values.
Keywords: humanistic literacy; diction; connotative meaning; poetry; literary learningReferences
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.). Chairil Anwar. Ensiklopedia Sastra Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. https://ensiklopedia.kemendikdasmen.go.id/sastra/artikel/Chairil_Anwar
Blake, J., & Snapper, G. (2022). Poetry in education. English in Education, 56(1), 1–4. https://doi.org/10.1080/04250494.2022.2030974
Chaer, A. (2014). Linguistik umum. Rineka Cipta.
Guttesen, K., & Kristjánsson, K. (2022). Cultivating virtue through poetry: An exploration of the characterological features of poetry teaching. Ethics and Education, 17(3), 277–293. https://doi.org/10.1080/17449642.2022.2114062
Hossain, K. I. (2024). Literature-based language learning: Challenges and opportunities for English learners. Ampersand, 13, Article 100201. https://doi.org/10.1016/j.amper.2024.100201
Jack, K., & Illingworth, S. (2024). Rehearsing empathy: Exploring the role of poetry in supporting learning. Arts & Health, 16(3), 303–316. https://doi.org/10.1080/17533015.2023.2256361
Kustyarini, K., & Umamy, E. (2024). Pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berbasis psikososial literasi. Educational: Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran, 4(4), 305–312. https://doi.org/10.51878/educational.v4i4.3561
Levett-Jones, T., Brogan, E., Debono, D., Goodhew, M., Govind, N., Pich, J., River, J., Smith, J., Sheppard-Law, S., & Cant, R. (2024). Use and effectiveness of the arts for enhancing healthcare students’ empathy skills: A mixed methods systematic review. Nurse Education Today, 138, Article 106185. https://doi.org/10.1016/j.nedt.2024.106185
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.
Nishihara, T. (2022). EFL learners’ reading traits for lexically easy short poetry. Cogent Education, 9(1), Article 2150010. https://doi.org/10.1080/2331186X.2022.2150010
Nurgiyantoro, B. (2010). Teori pengkajian fiksi. Gadjah Mada University Press.
Pradopo, R. D. (2010). Pengkajian puisi. Gadjah Mada University Press.
Teeuw, A. (2013). Sastra dan ilmu sastra. Pustaka Jaya.
Wang, Y., Zhou, Z., & Paas, F. (2023). Effects of instruction colour and learner empathy on aesthetic appreciation of Chinese poetry. Instructional Science, 51(4), 617–637. https://doi.org/10.1007/s11251-023-09631-x
Yuliantini, T. (2021). Kajian stilistika terhadap diksi dalam kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail serta pemanfaatannya sebagai bahan ajar bahasa Indonesia di SMK. Wistara: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 2(1), 36–45. https://doi.org/10.23969/wistara.v2i1.2292
Zuhdah, D. R., & Alfain, S. N. (2020). An analysis of denotation and connotation in Chairil Anwar’s poem. e-Journal of Linguistics, 14(1), 103–112. https://doi.org/10.24843/e-jl.2020.v14.i01.p11
DOI: http://dx.doi.org/10.47006/attazakki.v10i1.31255
Refbacks
- There are currently no refbacks.



