THE VALUES OF ISLAMIC EDUCATION IN THE STORY OF IBRAHIM P.B.U.H (Analysis Of Chapter Al-An'am Verses 74-81 And Chapter Al-Anbiyâ 51-70).

Rahman Sutomo, Syamsu Nahar , Abdullah AS

Abstract


Abstrak: The purpose of this study is to examine the content of Islamic education values in the story of Prophet Ibrahim As in chapter Al-an'am verses 74 to 81 and chapter Al-Anbiyâ verses 51 to 70. Both stories have a thematic relationship from the message they carry. If at chapter Al-an'am verses 74-81, Prophet Ibrahim p.b.u.h found the presence of God by observing the signs in nature then in chapter Al-Anbiyâ verse 51-70, the prophet Ibrahim p.b.u.h conveyed instructions about the presence of God to his people by means of discussion to his people. The methodology used in the study is the Library Study Method. This research belongs to the literature study using the method of content analysis with the Tahlili Method. There is also the research method used is the method of interpretation of the maudhu'i, namely the method of interpreting the Qur'an thematically by summarizing the verses of the Koran that are relevant to the values of education to be studied. The data sources used in this study are the Qur'anic translation of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, the exegesis of Ibn Kathir, the exegesis of Muhammad Quraiys Shihab al-Misbah, the exegesis of Muhammad Mutawalli Sya'rawi and the exegesis of Fi Zilal Quran sayyid qhutub. The results of this study show the values of Islamic education in the aspects of Aqidah, the story of Prophet Ibrahim p.b.u.h in the chapter Al-an'am verses 74-81 teaches the values of true Aqeedah as follows: 1. The value of Aqeedah. Almighty Allah will not have the "drowning" nature which means that he will not leave his creatures and supervising will always be there for his creatures, Allah will give guidance to His creatures, Allah is the Almighty so that Allah is not equal. 2. Moral values. Morals to Allah (habluminallah): if Allah gives instructions to his servant and answers prayers, then it is an obligation for His servants to accept His instructions and guidance and not obey them. While the values of Islamic education in the story of the prophet Ibrahim p.b.u.h in Al-Anbiyâ chapter verses 51-70, are as follows: 1. The value of Aqeedah, Idols are not worthy of being considered gods because they cannot protect themselves from being destroyed so how can idols protect the devotee. Idols cannot even tell who has destroyed him so that the idol itself cannot also guide his devotee, 2. The Value of Ukhuwah, Morals displayed in the story of Prophet Ibrahim p.b.u.h are noble morals both in the face of his infidel father and facing his people infidel He was not hostile to his father and even prayed for his father. He invited his people to dialogue in conveying the truth. The value of ukhuwah here is ukhuwah insaniyah, 3. The educational value of discussion, Prophet Ibrahim p.b.u.h in conveying the truth and rectifying the mistakes of his people in worship by means of dialogue using logic and persuasive style.

Keywords: Chapter Al-An'am, Chapter Al-Anbiyâ, Prophet Ibrahim P.B.U.H, Values, Education, Aqidah, Akhlak, Ukhuwah


Full Text:

PDF

References


THE VALUES OF ISLAMIC EDUCATION IN THE STORY OF IBRAHIM P.B.U.H (Analysis Of Chapter Al-An'am Verses 74-81 And Chapter Al-Anbiyâ 51-70).

Rahman Sutomo*, Syamsu Nahar **, Abdullah AS***

Email: rahmansutomo@gmail.com

*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sumatera Utara

**Dr. M.Ag Co Author Dosen Pascasarjana UIN Sumatera Utara

***Dr. M.Ag Co Author Dosen Pascasarjana UIN Sumatera Utara

Abstrak: The purpose of this study is to examine the content of Islamic education values in the story of Prophet Ibrahim As in chapter Al-an'am verses 74 to 81 and chapter Al-Anbiyâ verses 51 to 70. Both stories have a thematic relationship from the message they carry. If at chapter Al-an'am verses 74-81, Prophet Ibrahim p.b.u.h found the presence of God by observing the signs in nature then in chapter Al-Anbiyâ verse 51-70, the prophet Ibrahim p.b.u.h conveyed instructions about the presence of God to his people by means of discussion to his people. The methodology used in the study is the Library Study Method. This research belongs to the literature study using the method of content analysis with the Tahlili Method. There is also the research method used is the method of interpretation of the maudhu'i, namely the method of interpreting the Qur'an thematically by summarizing the verses of the Koran that are relevant to the values of education to be studied. The data sources used in this study are the Qur'anic translation of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, the exegesis of Ibn Kathir, the exegesis of Muhammad Quraiys Shihab al-Misbah, the exegesis of Muhammad Mutawalli Sya'rawi and the exegesis of Fi Zilal Quran sayyid qhutub. The results of this study show the values of Islamic education in the aspects of Aqidah, the story of Prophet Ibrahim p.b.u.h in the chapter Al-an'am verses 74-81 teaches the values of true Aqeedah as follows: 1. The value of Aqeedah. Almighty Allah will not have the "drowning" nature which means that he will not leave his creatures and supervising will always be there for his creatures, Allah will give guidance to His creatures, Allah is the Almighty so that Allah is not equal. 2. Moral values. Morals to Allah (habluminallah): if Allah gives instructions to his servant and answers prayers, then it is an obligation for His servants to accept His instructions and guidance and not obey them. While the values of Islamic education in the story of the prophet Ibrahim p.b.u.h in Al-Anbiyâ chapter verses 51-70, are as follows: 1. The value of Aqeedah, Idols are not worthy of being considered gods because they cannot protect themselves from being destroyed so how can idols protect the devotee. Idols cannot even tell who has destroyed him so that the idol itself cannot also guide his devotee, 2. The Value of Ukhuwah, Morals displayed in the story of Prophet Ibrahim p.b.u.h are noble morals both in the face of his infidel father and facing his people infidel He was not hostile to his father and even prayed for his father. He invited his people to dialogue in conveying the truth. The value of ukhuwah here is ukhuwah insaniyah, 3. The educational value of discussion, Prophet Ibrahim p.b.u.h in conveying the truth and rectifying the mistakes of his people in worship by means of dialogue using logic and persuasive style.

Keywords: Chapter Al-An'am, Chapter Al-Anbiyâ, Prophet Ibrahim P.B.U.H, Values, Education, Aqidah, Akhlak, Ukhuwah

PENDAHULUAN

Alquran adalah petunjuk dan sumber utama dalam mengembangkan dasar-dasar pendidikan Islam yang difirmankan oleh Allah swt. Dalam surat Al-Anbiyâ ayat 51-70 dan surat Al-An'am ayat 74-81 yang berbicara tentang kisah Ibrahim As, menjadi dasar perbaikan dunia pendidikan Islam saat ini. Nabi Ibrahim as bapaknya para Nabi dan Rasul Allah, orangnya cerdas (fatanah) dan berada pada petunjuk-Nya yang lurus (hanif). Pendidikan Islam saat ini menghadapi tantangan dari sistem pendidikan barat yang terlalu mengutamakan kecerdasan intelektual akan tetapi mengabaikan nilai-nilai budi pekerti (afektif).

Nilai-nilai akhlak yang diamalkan dalam kehidupan Nabi Ibrahim As dapat menjadi model pendidikan yang sangat baik di dunia pendidikan Islam saat ini. Alquran surat Al-An'am, 71-84 adalah kisah nabi Ibrahim As mencari Tuhan dengan mengamati alam, menunjukkan betapa Nabi Ibrahim As adalah orang yang cerdas dan selalu berada pada jalan yang lurus (hanif), bertaqwa dan beramal dengan berpegang kepada hujjah Alquran. Sedangkan pada surah Al-Anbiyâ ayat 51-70 berisi kisah Nabi Ibrahim As berdialog dengan kaum nya tentang masalah Ketuhanan.

Nilai pendidikan Alquran adalah pendidikan yang memperhatikan intelektual. Nabi Ibrahim As menjelaskan konsep tauhid kepada kaumnya dengan penuh perilaku teguh pendirian dalam memihak kebenaran (istiqomah) dan berani ketika menghadapi kaumnya yang telah nyata sesat. Kisah ini memperlihatkan nilai jihad yang dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim As, dalam memenangkan nilai tauhid adalah jihad yang paling agung, maka jika nilai pendidikan dalam cerita Ibrahim As dibuat dalam contoh pendidikan Islam tentu saja menciptakan kembali generasi muslim yang kuat dan berbudi pekerti luhur.

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Nilai-Nilai Pendidikan

Nilai segala hal tentang menentukan benar dan salah. dalam aspek jasmani dan rohani dalam diri manusia. selaras dengan pengertian tersebut, manusia dalam hidupnya membutuhkan nilai-nilai yang mengatur hidupnya, melingkupi segala sesuatu yang benar atau yang salah, sebagai gambaran, nilai menyeleksi secara ketat pandangan dan pengalaman hidup manusia. Nilai adalah sesuatu yang bermanfaat. Pengalaman-pengalaman sosial yang dialami oleh seseorang di abstraksi dalam bentuk nilai-nilai. Selain itu, nilai dapat dihubungkan sebagai sesuatu yang sangat penting, bermutu, menunjukkan kualitas, dan bermanfaat bagi manusia. Nilai menjadi pegangan dan pedoman umum yg telah berlaku lama yang mengarahkan tingkah laku dan kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu penting atau bermanfaat bagi kehidupan manusia. Artinya nilai adalah suatu kelestarian yang ada bagaimanapun keadaan di sekitarnya berjalan. Dari beberapa pendapat tersebut di atas pengertian nilai dapat dijelaskan sebagai sesuatu yg sangat dibutuhkan dan penting dalam kehidupan manusia dan setiap individu masing-masing harus memiliki nilai jika ingin dihargai oleh masyarakat. Hubungan sosial antar individu akan selalu memiliki nilai positif dan tidak akan berubah selama tidak ada pertikaian diantara mereka.. Nilai di sini dalam konteks etika (baik dan buruk), logika (benar dan salah), estetika (indah dan jelek).

Secara umum nilai sering dikaitkan dengan etika dan moral. Kendatipun ketiga term tersebut sesungguhnya sangat berbeda pada sisi penekanannya, adalah benar bahwa bukan disini tempatnya untuk menjelaskan secara tuntas ketiga istilah di atas. Nilai merupakan esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Esensi belum berarti sebelum di butuhkan oleh manusia, tetapi tidak berarti adanya esensi karena adanya manusia yang membutuhkan. Hanya saja kebermaknaan esensi tersebut semakin meningkat sesuai dengan peningkatan daya tangkap pemaknaan manusia itu sendiri. Jadi nilai adalah sesuatu yang penting bagi manusia sebagai subyek menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai abstraksi, pandangan atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi prilaku yang ketat. Islam sebagai suatu perangkat ajaran dan nilai, meletakkan konsep dan doktrin yang merupakan rahmat li al-alamin.

Pendidikan adalah segala usaha individu dewasa dalam lingkungan pergaulannya dengan anak-anak untuk membimbing perkembangan jasmani dan rohani menuju ke arah kedewasaannya. Pendidikan yang ideal merupakan pendidikan yang mampu mengakomodasi tiga kecerdasan sekaligus yaitu kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Dengan kata lain, kecerdasan yang dikenal dalam dunia pendidikan adalah kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik.

Secara etimologis Pendidikan berasal dari bahasa Yunani “Paedogogike”, yang terdiri atas kata “Pais” yang berarti Anak” dan kata “Ago” yang berarti “Aku membimbing”. Paedogogike berarti aku membimbing anak. Pendidikan terdiri dari sekumpulan proses bertahap yang mana seluruh potensi manusia dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam menolong orang lain dan dirinya sendiri dalam mencapai kebiasaan yang baik.

Hakikat utama dari pendidikan adalah bertujuan mendewasakan anak didik, sehingga seorang pendidik dituntut sebagai manusia yg telah dewasa mental dan jasmaninya karena mustahil mendewasakan anak didik jika pendidik nya sendiri belum dewasa. Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas dapat definisikan bahwa nilai-nilai pendidikan memberikan batasan-batasan pada segala hal-hal yang mengarahkan pendidikan menuju kedewasaan, bersifat positif maupun negatif sehingga berguna bagi kehidupannya yang didapat melalui proses pendidikan. Proses pendidikan bukan berarti hanya dapat dilakukan dalam satu tempat dan sekali saja. Dikaitkan dengan eksistensi dan kehidupan manusia, nilai-nilai pendidikan diarahkan pada pembentukan kepribadian manusia sebagai makhluk individu, sosial, religius, dan berbudaya.

B. Struktur Klasifikasi Dan Kategori Nilai

Struktur Nilai

Nilai ilahiah yang terdiri atas nilai ubudiyah dan nilai muamalah; nilai etik insaniah yang terdiri atas rasional, sosial, individual, ekonomi, politik, biofisik, dan lain-lain.

Klasifikasi Nilai

Klasifikasi nilai, yaitu pembagian nilai yang didasarkan pada sifat-sifat nilai itu sendiri dalam tatanan hierarkinya (nilai terminal dan instrumental; nilai intrinsik dan ekstrinsik; nilai personal dan nilai sosial; nilai subjektif dan objektif).

Kategorisasi Nilai

a. Nilai teoritik (nilai yang melibatkan pertimbangan logis dan rasional dalam memikirkan dan membuktikan kebenaran sesuatu).

b. Nilai ekonomis (nilai yang berkaitan dengan pertimbangan nilai yang berkadar untung rugi “harga”).

c. Nilai estetik (meletakkan nilai tertingginya pada bentuk keharmonisan).

d. Nilai sosial (nilai tertinggi yang terdapat pada nilai ini adalah kasih sayang antarmanusia).

e. Nilai politik (nilai tertinggi dalam nilai ini adalah nilai kekuasaan).

f. Nilai agama (nilai yang memiliki dasar kebenaran yang paling kuat dibandingkan dengan nilai-nilai sebelumnya).

Konfrontasi Islam dengan ideologi sekuler semata-mata melalui filter teologi filosofis. Pengadilan sekularisme menghakimi keyakinan agama di pasar, media, forum universitas, dan dunia bersama. Tidak ada yang bisa mengabaikan keberadaan praktis dunia barat sekuler. Namun, menghadapi tantangan intelektual murni yang ditimbulkan oleh visi dunia sekuler adalah masalah pilihan akademis. Implikasinya yang lebih besar bukanlah intelektual yang sempit.

C. Jenis-Jenis Nilai Pendidikan

Nilai Pendidikan Spiritual

Nilai-nilai religius Spiritual bukan hanya berkaitan dengan kehidupan lahir saja tapi juga mencakup seluruh aspek kepribadian manusia secara total dalam integrasinya hubungan ke dalam keesaan Tuhan. Nilai-nilai religius memberi sasaran untuk mendidik agar manusia lebih baik menurut pedoman agama dan selalu ingat kepada Tuhan. Religius adalah suatu kesadaran yang muncul secara mendalam dalam hati nurani manusia sebagai fitrahnya manusia. Nilai-nilai religius dalam seni bersifat individual dan pribadi. Nilai-nilai religius yang tercantum dalam karya seni bertujuan sehingga penikmat karya tersebut mendapatkan renungan-renungan batin dalam kehidupan yang berasal pada nilai-nilai agama. Nilai religius cenderung pada hati nurani dan kepribadian manusia itu sendiri. kita tidak memahami hasil-hasil kebudayaannya, kecuali bila kita mengerti akan keyakinan atau agama yang mendasarinya. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai religius yang merupakan nilai spiritual batin tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia. Dalam penanaman nilai-nilai tersebut harus didasari oleh keyakinan, keimanan dan kepercayaan kepada Allah swt. Dalam Islam keyakinan terhadap hal-hal yang diperintahkan Allah Swt dikenal dengan rukun iman yang terdiri dari beriman kepada Allah, malaikat, Rasul, kitab, hari akhir, qaâ’ dan qadar dari Allah.

Nilai Pendidikan akhlak

Akhlak dapat dipersepsikan sebagai tema dalam bentuk yang sederhana, tetapi tidak semua tema akhlak merupakan moral, akhlak merupakan potensi individual untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. kesenian dapat dijadikan alat bantu pendidikan agar seorang individu untuk mengenal etika tentang baik dan buruknya suatu perbuatan, apa yang harus dihindari, dan apa yang harus dikerjakan, sehingga tercipta suatu tatanan hubungan sosial yang positif diantara manusia dalam masyarakat yang dianggap baik, harmonis, dan bermanfaat bagi orang itu, masyarakat, lingkungan, dan alam sekitar. Kesenian dapat mengajarkan nilai-nilai akhlak dalam bentuk cerita, alur dan penokohan dalam cerita tersebut. Akhlak selalu berhubungan dengan nilai, tetapi nilai akhlak yang mewakili sikap dan tingkah laku manusia merupakan hanya sebagian dari pada nilai-nilai. Nilai akhlak inilah nilai yang lebih terkait dengan tindakan kehidupan manusia sehari-hari. Nilai akhlak adalah nilai yang menangani perilaku dan sikap kehidupan manusia sehari-hari, apa yang benar dan apa yang salah. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan akhlak menunjukkan peraturan dan batasan yang mengatur tingkah laku dan adat istiadat dari seorang individu dari suatu kelompok yang mencakup perilaku.

Nilai Pendidikan Sosial bermasyarakat

Sikap dan perilaku seseorang yang menghadapi lingkungan sekitar nya dan peristiwa yang terjadi dan berkaitan dengan orang lain merupakan perilaku sosial seseorang, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Aspek sosial merupakan hal-hal yang berrelasi dengan masyarakat dan kepentingan umum. Nilai pendidikan sosial adalah segala aspek yang dapat diambil dari tingkah laku sosial dan bagaimana cara hidup bermasyarakat. Nilai pendidikan sosial dapat menjadi pedoman bagi manusia untuk sadar akan pentingnya kehidupan komunitas dalam ikatan kekeluargaan antara satu individu dengan individu lainnya. Nilai pendidikan sosial yang ada dalam kesenian merupakan contoh-contoh sederhana dan kecil dari kehidupan masyarakat yang diinterpretasikannya. Bagaimana cara mereka mengatasi masalah, bagaimana seseorang harus menjaga sikapnya, dan menghadapi kondisi tertentu juga tercakup dalam nilai sosial. Nilai pendidikan sosial mengarah kepada ikatan individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat. Sejalan dengan hal itu nilai sosial dapat diartikan sebagai landasan bagi masyarakat untuk merumuskan apa yang benar dan penting, memiliki keunikan tersendiri yang berbeda, dan berperan penting untuk mendorong dan mengarahkan individu agar berbuat sesuai aturan adat yang berlaku. Dalam masyarakat Indonesia yang berada dalam kehidupan berbhineka dalam kehidupan suku bangsanya, pengendalian diri dan toleransi terhadap kelompok lain adalah hal yang sangat penting untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat. Jadi nilai pendidikan sosial dapat didefinisikan sebagai sekumpulan sikap dan perasaan dalam bentuk sistem yang diwujudkan melalui tingkah laku yang berpengaruh terhadap perilaku individu yang memiliki nilai tersebut. Nilai pendidikan sosial berpedoman kepada pertimbangan terhadap suatu tindakan fisik, bagaimana cara untuk mengambil keputusan, apakah sesuatu yang bernilai itu memiliki kebenaran, keindahan, dan nilai ketuhanan. Nilai pendidikan sosial mencakup sikap-sikap dan nilai perasaan yang disetujui secara luas oleh masyarakat dan merupakan dasar untuk menentukan apa yang benar dan apa yang penting.

Nilai Pendidikan Budaya

Nilai budaya adalah tingkat yang paling abstrak dari adat, kehidupan sosial dan menyebar dalam alam pikiran masyarakat, dan sulit diganti dengan nilai dari budaya lain dalam waktu sebentar. Pemahaman manusia dalam memaknai ruang dan waktu berakibat dalam pemahaman tentang nilai budaya dalam kehidupan manusia. Setiap kelompok masyarakat atau pun suku bangsa memiliki nilai-nila budaya yang dianggap baik yang berbeda-beda dengan nilai-nilai budaya dari kelompok masyarakat atau pun suku bangsa yang lain sehingga nilai-nilai budaya memberikan karakterisktik dan ciri khas tersendiri bagi setiap kebudayaan kelompok masyarakat dan suku bangsa. Sistem nilai budaya merupakan inti utama budaya masyarakat, sehingga sistem nilai itu akan berpengaruh kepada tatanan unsur-unsur yang ada pada struktur adat kebiasaan dari kehidupan manusia yang mencakup perilaku sebagai kesatuan integrasi gejala dan material fisik sebagai kesatuan material yang utuh. Maknanya akan bersifat antar subjek karena berkembang secara individual, namun dikaji dan dilihat secara bersama, diterima, dan disetujui oleh masyarakat hingga menjadi latar belakang budaya yang menyatu bagi fenomena yang digambarkan.

Suatu sistem nilai budaya pada umumnya berguna sebagai standar pegangan tertinggi. Pola pikir dan paradigma berpikir masyarakat bergantung kepada sistem nilai budaya berupa konsep-konsep hidup yang menjadi pedoman mereka, tentang hal-hal yang harus mereka pandang amat penting dalam hidup. Bagi tingkah laku manusia dari berbagai pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sistem nilai pendidikan budaya didefinisikan sebagai nilai yang menempati posisi utama dan penting dalam kerangka suatu budaya masyarakat yang sifatnya abstrak untuk mengungkapkan dan menyatakan fenomena yang didapatkan dari pengamatan gejala-gejala yang lebih nyata seperti budaya kebiasaan dan benda-benda material sebagai hasil dari penuangan konsep-konsep nilai melalui tindakan berpola.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini tergolong ke dalam studi pustaka. Studi pustaka adalah metode penelitian dengan mendapatkan data-data yang dibutuhkan, peneliti menelaah (content analysis) dari buku-buku kepustakaan yang relevan dan mendukung pembahasan yang terangkum menjadi judul tesis ini . Penelitian diprioritaskan kepada kitab-kitab tafsir yang berkaitan dengan ayat-ayat QS. Al-Anbiyâ 51-70 dan QS. Al-An'am 74-81 tentang pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As kepada kaumnya dan menghayati tanda-tanda kebesaran Allah SWT di Alam Semesta.

Adapun metode penelitian yang dipakai adalah metode tafsir maudhu’i atau tafsir tematik. Secara Etimologis Tafsir tematik dalm bahasa Arab disebut tafsir maudhu’i. Tafsir maudhu’i terdiri dari dua kata, yaitu kata tafsir dan kata maudhu’i. Kata tafsir termasuk bentuk mashdar (Kata benda) yang berarti penjelasan/keterangan/uraian. Kata maudhu’i dinisbatkan kepada kata maudhu’i, isim maf’ul dari fi’il madhi wadhu’a, yang memiliki makna beraneka ragam, yaitu: yang diletakkan, yang diantar, atau yang dibuat, yang dibicarakan/tema/topik. Makna yang terakhir ini (tema/topik) yang relevan dengan konteks pembahasan disini.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Uraian berikutini merupakan pembahasan hasil penelitian berdasarkan penelusuran kepustakaan maka diperoleh hasil penelitian berikut ini:

Nilai-Nilai Pendidikan Aqidah

Ibnu Abbas menyebutkan bahwa sesungguhnya nama ayah Nabi Ibrahim As bukan Azar, melainkan yang sebenarnya adalah Tarikh (Terakh). Demikianlah riwayat Imam Ibnu Abu Hatim. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr ibnu Abu Asim An-Nabil, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Asim Syabib, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman Allah swt: Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim As berkata kepada bapaknya Azar. (Al-An'am: 74) yakni Azar si penyembah berhala. Ayah Nabi Ibrahim As yang sebenarnya adalah Tarikh, dan nama ibunya adalah Syani; istri Nabi Ibrahim As ialah Sarah, dan ibunya Nabi Ismail yaitu Hajar, budak Nabi Ibrahim As. Demikianlah menurut apa yang telah dikatakan oleh bukan hanya seorang dari ulama nasab, bahwa ayah Nabi Ibrahim As bernama Tarikh (sedangkan Azar adalah pamannya) .

Sebelum kita mengambil beberapa penafsiran dari ayat Alquran yang telah ditafsiran Ibnu Katsir, alangkah lebih baiknya kita mengenal latar belakang keilmuan dan kondisi yang terjadi pada masa Ibnu Katsir, sehingga kita mengetahui bagaimana relevansi kondisi itu denan peafsiran ayat Alquran. Karakater karya seseorang tidak akan bisa dilepaskan dari kecondongan minat orang tersebut, kira-kira seperti itu jugalah tafsir ibnu katsir.

Nilai aqidah adalah konsep-konsep nilai yang berpusat pada ketuhanan dan diimani manusia sehingga seluruh perbuatan dan perilakunya bersumber pada konsepsi tersebut. Secara terminologi aqidah berarti pengakuan atas keesaan Allah swt. sebagai Sang Pencipta seluruh alam yang melahirkan kepercayaan manusia akan kekuasaan Allah. Nilai ini sangat penting, karena dengan adanya kesadaran setiap muslim atas kekuasaan Allah swt. yang merajai seluruh alam semesta termasuk ilmu pengetahuan yang pada hakikatnya bagian dari rahmat dan kekuasaan Allah swt. Mujahid dan As-Saddi mengatakan bahwa Azar adalah nama berhala.

Berdasarkan pendapat ini dia dikenal dengan nama Azar, karena dialah yang menjadi pelayan dan yang mengurus berhala itu, wallahu a'lam. Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya berpendapat bahwa Azar menurut bahasa mereka artinya kata cacian dan keaiban, maknanya ialah menyimpang (sesat). Akan tetapi, pendapat ini tidak disandarkan kepada seorang perawi pun oleh Ibnu Jarir, tidak pernah pula diriwayatkan oleh seorang pun.

Sosok Ibnu Katsir yang condong kepada keabsahan turats telah ikut mewarnai karyanya. Begitu juga hal ini tidak bisa lepas dari kondisi jaman saat itu, perhelatan aliran pemikiran pada abad ke 7/8 H memang sudah kompleks. Artinya telah banyak aliran pemikiran yang telah ikut mewarnai karakter seseorang.

Fondasi aktifitas manusia itu tidak selamanya bisa tetap tegak berdiri, maka dibutuhkan adanya sarana untuk memelihara pondasi yaitu ibadah. Ibadah merupakan bentuk pengabdian dari seorang hamba kepada allah. Ibadah dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah. Apabila aqidah telah dimiliki dan ibadah telah dijalankan oleh manusia, maka kedua hal tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu diperlukan adanya suatu peraturan yang mengatur itu semua. Aturan itu disebut Muamalah. Muamalah adalah segala aturan islam yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Muamalah dikatakan berjalan baik apabila telah memiliki dampak sosial yang baik. Untuk dapat mewujudkan aqidah yang kuat yaitu dengan cara ibadah yang benar dan juga muamalah yang baik, maka diperlukan suatu adanya ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menjelaskan yang seharusnya dilakukan manusia kepada yang lainya, yang disebut dengan nilai ibadah .

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah disebutkan dari Mu'tamir ibnu Sulaiman bahwa ia pernah mendengar ayahnya membacakan firman: Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim As berkata kepada Azar bapaknya. (Al-An'am: 74) Lalu ia mengatakan bahwa telah sampai kepadanya suatu riwayat yang mengatakan bahwa Azar artinya bengkok (menyimpang), dan kata-kata ini merupakan kata-kata yang paling keras yang pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim As. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa nama ayah Nabi Ibrahim As adalah Azar. Lalu Ibnu Jarir mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan penilaiannya itu, yaitu pendapat ulama ahli nasab yang mengatakan bahwa nama ayah Nabi Ibrahim As adalah Tarikh. Selanjutnya ia mengulasnya bahwa barangkali ayah Nabi Ibrahim As mempunyai dua nama seperti yang banyak dimiliki oleh orang lain, atau barangkali salah satunya merupakan nama julukan, sedangkan yang lain adalah nama aslinya.

Pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir ini cukup baik lagi kuat. Maka tersebutlah bahwa sejak itu Nabi Ibrahim As . selalu berdoa kepada Tuhannya, memohonkan ampun buat bapaknya. Ketika bapaknya meninggal dunia dalam keadaan tetap musyrik, dan hal itu sudah jelas bagi Nabi Ibrahim As, maka Nabi Ibrahim As mencabut kembali permohonan ampun buat ayahnya dan berlepas diri dari perbuatan ayahnya, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain:

       •    •        •  •  

Dan permintaan ampun dari Ibrahim As (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim As bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim As berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim As adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (At-Taubah: 114). dia berkata, "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku (Al-An'am: 78-79). Yakni aku murnikan agamaku dan aku mengkhususkan dalam ibadahku hanya:

   

kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. (Al-An'am: 79). Yaitu Yang menciptakan dan mengadakan keduanya tanpa contoh terlebih dahulu. حَنِيفًا dengan cenderung kepada agama yang benar. (Al-An'am: 79). Maksudnya, dalam keadaan menyimpang dari kemusyrikan untuk menuju kepada ketauhidan. Dalam firman selanjutnya disebutkan:

     

dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Al-An'am: 79).

Pemahaman yang orisinil untuk mempertahankan keauntetikan Qur`an dan sunnah terus dijaga. Inilah sebagian pewarnaan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Selain itu, kelompok-kelompok yang mengagungkan akal secara berlebihan dan thariqah-thariqah shufiyah telah beredar luas kala itu. Islam telah berkembang pesat dan banyak „agamawan‟ yang masuk ke dalam Islam. Hal ini ikut pula mempengaruhi sekaligus mewarnai perkembangan wawasan pemikiran. Tafsir Qur`an dengan perkataan sahabat. Ibnu Katsir berkata, jika kamu tidak mendapati tafsir dari suatu ayat dari Alquran dan Sunnah, maka jadikanlah para sahabat sebagai rujukannya, karena para sahabat adalah orang yang adil dan mereka sangat mengetahui kondisi serta keadaan turunnya wahyu. Menafsirkan dengan perkataan tabi‟in. Cara ini adalah cara yang paling akhir dalam cara menafsirkan Alquran dalam metode bil-ma`tsur. Ibnu Katsir merujuk akan metode ini, karena banyak para ulama tafsir yang melakukannya, artinya, banyak ulama tabi’in yg dijadikan rujukan dalam tafsir.

Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan benar. Ibadah yang dijalankan dinilai baik apabila telah sesuai dengan muamalah. Rasulullah bersabda: Dari Ali R.A ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Orang-orang yang berilmu kemudian dia memanfaatkan ilmu tersebut (bagi orang lain) akan lebih baik dari seribu orang yang beribadah atau ahli ibadah. (H.R Ad-Dailami). Menafsirkan Alquran dengan Sunnah (Hadis). Ibnu Katsir menjadikan Sunnah sebagai referensi kedua dalam penafsirannya. Orang yang beriman tidak bakal putus asa atau patah hait pada keadaan yang bagaimanapun. Orang yang beriman mempunyai kemauan keras, kesabaran yang tinggi dan percaya teguh kepada Allah swt. Keimanan membuat keberanian dalam diri manusia. Keimanan terhadap kalimat La Ilaha illa al-Allah dapat mengembangkan sikap cinta damai dan keadilan menghalau rasa cemburu, iri hati dan dengki. Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa aqidah itu merupakan satu hal yang sangat fondamental dalam Islam dan dengan sendirinya dalam kehidupan. Kemantapan aqidah dapat diperoleh dengan menanamkan kalimat tauhid La Illaha illa al-Allah. Tiada yang dapat menolong, memberi nikmat kecuali Allah; dan tiada yang dapat mendatangkan bencana, musibah kecuali Allah. Pendek kata, kebahagiaan dan kesengsaraan hanyalah dari Allah.

Nilai-Nilai Pendidikan Ukhuwah

Selayaknyalah manusia tidak lalai dan lupa kepada Musabbib/Penyebab utama (Allah), karena Dia adalah sebab dari segala sebab yang ada. Saat makhluk tidak lagi mampu meraih sebab itu, maka tangan Allah-lah yang memberikan kesempatan kepada manusia untuk dapat meraih sebab yang tidak mampu mereka raih. Kata kesesatan artinya adalah bahwa kamu menginginkan sampai ke tujuan akan tetapi kamu tersesat di jalan. Manusia saat itu punya tujuan mengagungkan dan menyucikan pemberi nikmat, akan tetapi sayangnya mereka telah salah jalan dengan mengagungkan sebab dengan melalaikan serta melupakan Tuhan yang ada di balik sebab tersebut. Mereka pada akhirnya hanya sampai kepada sebab bukan kepada Pemberi sebab. Sehingga yang terjadi adalah penuhanan makhluk atas makhluk. Mereka seharusnya memikirkan siapakah sebenarnya yang menciptakan dan memberikan kekuasaan kepada sebab-sebab ini? Sekecil apapun sesuatu benda itu pasti ada yang menciptakannya. Gelas sebagai tempat minum tidak mungkin ada dengan sendirinya, kecuali setelah mengalami proses yang beragam sampai menjadi gelas. Di sekolah kita diajarkan untuk mengenal Edison sang penemu lampu listrik, dan kisah ini disampaikan dengan penuh ketakjuban oleh penulis cerita, sayangnya tidak pernah ada yang mengajarkan ketakjuban terhadap Allah yang menciptakan matahari yang mampu menyinari alam. Ukhuwah seperti ini tergolong sebagai Ukhuwah fi al-Ubudiyyah yaitu bagaimana manusia menjaga kelestariannya lingkungan dan alam bagaimana menjaga eksistensinya di alam semesta agar tidak merusak dan menganggap kehadirannya di alam sebagai salah satu bagian dari makhluk Allah yang tunduk beribadah kepada Allah. Lewat ukhuwah ubudiyyah manusia membangun hubungan baik kepada Allah sebagai pencipta alam ini (habluminallah).

Kita hanya berhenti sampai pada batas rangkaian sebab dan fenomena rasionalitas. Demi pemahaman yang lebih mendalam hendaknyalah kita menghubungkan sebab dan apa yang ada di belakang sebab tersebut. Dengan demikian kita dapat sampai kepada yang menyebabkan ini semua, dengan menyadari bahwa Allah telah menciptakan alam ini untuk manusia. Sifat Allah tidak ada yang menyamainya baik itu pada kekuasaan dan hikmah-Nya. Tuntutan Allah adalah menjalankan manhaj-Nya. Dari sini akan dipahami bahwa para rasul diutus sebagai rahmat untuk menyelamatkan kita dari kesesatan. Ketika Allah menjelaskan: “Akulah yang menciptakan langit bumi, dan Aku juga menundukkan alam ini.” Ini adalah seruan yang memiliki dua kemungkinan: pertama, pernyataan ini adalah benar, sehingga kita mengimani Allah dengan sungguh-sungguh. Kedua, pernyataan ini tidak benar, sehingga kita akan kembali mempertanyakan kalau demikian siapa pencipta alam ini? Dan mengapa dia belum mengatakan kepada kita sifatnya? Mengapa dia tidak mengutus rasul kepada kita untuk menyampaikan informasi tentang dirinya? Karena tidak ada zat yang melakukan hal ini, maka ditetapkanlah ketuhanan itu kepada siapa yang menyampaikan kepada kita informasi tentang diri-Nya, sifat-Nya, dan penciptaan-Nya melalui rasul-Nya.

Di sini Al-Sya’rawi ingin menjelaskan kata, “al-malakût,” merupakan kata yang diambil dari bentuk kata kerja, “malaka” yang berarti menguasai, sehingga menunjukkan makna ism fa’il (pelaku). Demikian itu, kata ini merupakan bentuk format intensitas, yang menunjukkan pelaku melakukan sesuatu dalam kadar yang besar. Maka pada kata, “malakût” menunjukkan makna kekuasaan.

Gaya nabi Ibrahim dalam mendidik kaumnya dengan mengaktifkan logika dan penalaran mereka. Bukan dengan cara indoktrinasi. Nabi Ibrahim mendidik dengan cara berdialog tanya-jawab lalu menampilkan hasil demonstrasi di depan mereka. Gaya mengajar seperti ini hanya bisa dilakukan dengan membangun hubungan komunikasi dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Artinya nilai-nilai ukhuwah seperti:

Ikatan persaudaraan dan kekeluargaan dalam bermasyarakat harus diterapkan;

Sikap toleransi dan saling menghormati lawan bicara untuk menjaga kerukunan masyarakat;

Mendahulukan bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah.

Semua itu adalah nilai-nilai ukhuwah yang dibutuhkan dalam gaya mengajar nabi Ibrahim. Bukan dengan doktrinasi, memaksakan kehendak dan bersikap mau menang sendiri(egois).

Nilai-Nilai Pendidikan Berdiskusi

Metode penafsiran Fi Zhilalil Qur’an dapat dijabarkan dalam uraian sebagai berikut, sangat berhati-hati terhadap cerita israiliyat dan meninggalkan perbedaan-perbedaan fiqiyah, serta tidak bertele-tele dalam membahas masalah bahasa, kalam ataupun filsafat.

Nabi Ibrahim As mencemooh dan memperolok-olok mereka, padahal dia seorang diri sementara mereka banyak jumlahnya. Hal itu disebabkan dia melihat dengan akalnya yang terbuka dan hatinya yang tersambung kepada hidayah. Maka, dia tidak kuasa untuk tidak mencemooh dan mengejek mereka, serta menjawab mereka dengan jawaban yang sesuai tingkat akal mereka yang rendah. Ibrahim menjawab, Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara. (Al-Anbiyâ': 63). Ejekan sangat kentara dalam jawaban yang menghinakan ini. Jadi, tiada manfaatnya kita menyebut hal ini sebagai kebohongan dari Ibrahim dan mencari alasan-alasannya sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli tafsir dan berbeda pendapat di dalamnya. Urusan itu sebetulnya lebih mudah dari perbedaan pendapat itu semua.

Dalam kisah ini Nabi Ibrahim mengajak kaum nya untuk berpikir, bagaimana mungkin mengharapkan petunjuk dari tuhan yang bahkan tidak bisa memberi tahu siapa pelaku yang telah menghancurkan patung mereka dan bagaimana bisa mengharapkan perlindungan dari tuhan-tuhan yang bahkan tidak bisa melindungi diri mereka sendiri dari dihancurkan orang. Nabi Ibrahim mengajak kaumnya untuk memakai logika dalam menemukan konsep ketuhanan sejati. Bahwa Tuhan itu adalah yang maha melindungi dan memberi petunjuk. Tuhan itu haruslah maha esa, kenapa ?, jika Tuhan lebih dari satu maka masing-masing Tuhan akan membatasi kekuasaan Tuhan-tuhan yang lain dan hal ini akan bertentangan dengan sifat tuhan yang maha berkuasa dan maha tidak terbatas. Tuhan harus lah menguasai langit dan bumi artinya kekuasaannya merajai seluruh alam semesta ini. Bukan tuhan-tuhan kaum nya yang hanya menguasai aspek-aspek terbatas seperti dewa matahari hanya menguasai panas dan cahaya saja atau dewa bulan mereka yg menguasai malam saja. Itulah sebabnya Nabi Ibrahim setelah menghancurkan semua patung kecuali yang terbesar lalu berkata kepada kaumnya: “coba tanyakan kepada patung yang paling besar itu” maksudnya apakah pantas Tuhan diduakan, karena jika tuhan sudah diduakan maka artinya itu kita sudah melecehkan sifat Nya yang maha kuasa dan maha tidak terbatas.

KESIMPULAN

Adapun nilai-nilai pendidikan Islam dalam kisah Nabi Ibrahim As surah Al-an'am ayat 74-81 sebagai berikut:

a. Nilai Aqidah. Allah maha kekal tidak akan memiliki sifat "tenggelam" yang artinya tidak akan meninggalkan makhluknya dan maha mengawasi akan selalu ada bagi makhluknya, Allah maha memberi petunjuk bagi makhluknya, Allah maha esa sehingga tidak layak Allah dipersekutukan.

b. Nilai akhlak. Akhlak kepada Allah/habluminallah: jika Allah memberi petunjuk kepada hambanya dan menjawab doa, maka sudah kewajiban bagi hambaNya untuk menerima petunjuk dan bimbinganNya serta tidak mendurhakainya.

Adapun nilai-nilai pendidikan Islam dalam kisah nabi Ibrahim as pada surah Al-Anbiyâ ayat 51-70, sebagai berikut:

a. Nilai Aqidah, Berhala tidak layak dianggap sebagai tuhan karena berhala itu tidak bisa melindungi dirinya dari dihancurkan orang sehingga bagaimana mungkin berhala bisa melindungi penyembahnya. Berhala bahkan tidak bisa memberi tahu siapa yang telah menghancurkan dirinya sehingga berhala itu sendiri juga tidak bisa memberi petunjuk kepada penyembahnya karena Allah maha kekal, maha pemberi petunjuk dan maha melindungi sehingga tidak layak menyamakan berhala kepada Allah swt.

b. Nilai Ukhuwah/habluminannas, Akhlak yang ditampilkan dalam kisah Nabi Ibrahim As adalah akhlak yang mulia baik dalam menghadapi ayahnya yang kafir dan menghadapi kaumnya yang kafir. Beliau tidak bermusuhan dengan ayahnya bahkan beliau mendoakan ayahnya. Beliau mengajak berdialog kaumnya dalam menyampaikan kebenaran. Nilai ukhuwah disini adalah ukhuwah insaniyah

c. Nilai pendidikan berdiskusi, Nabi Ibrahim As dalam menyampaikan kebenaran dan meluruskan kekeliruan kaumnya dalam beribadah dengan cara berdialog memakai logika bukan dengan cara egois dan sikap yang fanatik. Beliau bahkan mendemonstrasikan bagaimana berhala yang disembah kaumnya itu tidak memiliki daya apa-apa sama sekali. Ini contoh bagaimana metode mengajar dengan cara berdiskusi.

Daftar Pustaka

Ahmad, Fatimah, dkk. “Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural di Sekol ah Menengah Kejuruan Negeri 1 Tanjung Pura”, dalam Jurnal At- Tazakki, Vol. 3, No. 2, Tahun 2019.

Ali, H.M. Sayuthi. Metodologi Penelitian Agama Teori dan Praktek. Jakarta: Raja Grafindo Persada Press, 2002.

Al-Qaththan. Syaikh Manna. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur an, Terj. Aunur Rafiq. Jakarta: Pustaka alKautsar.

An-Nahlawi, Abdurrahman. Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press, 2009.

Anshari, Endang Syafruddin. Wawasan Islam Pokok-pokok Pemikiran Tentang Islam, Cet-2. Jakarta: Rajawali, 2010.

Baidan, Nashruddin. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Planar, 2005.

Baidan, Nasruddin. Metodologi Penafsiran Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Buchoni, Didin Saefuddin. Pedoman Memahami Kandungan Al-Qur’an. Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005.

Hafidz, Muhammad Nur Abdul. Mendidik Anak Bersama Rasulullah, penterjemah Kuswah Dani, judul asli Manhajul al-tarbiyah al-Nabawiyah Lil-al Thifl. Bandung: Albayan, 2007.

Katsir, Ibnu. Tafsir Alquran Alkarim, terj. M. Abdul Ghoffar. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2009.

Kurniawan, Taufik dkk. “Nilai-NilaiPendidikan Multikultural dalam Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam: Telaah Atas Buku Pelajaran SKI Kls X Madrasah Aliyah”, dalam Jurna At-Tazakki, Vol. III, No. 2, Tahun 2009.

Muhaimin. Nuansa baru Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

Napitupulu, Dedi Sahputra. “Nilai-Nilai Pendidikan Pada Kisah Nabi Adam AS”, dalam Tadris, Vol. XII, No. 2 Tahun 2017.

Sari, Dedek Dian, dkk. “ Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Kisah ‘Uzair: Analisis Kajian dalam Q.S. Al- Baqarah Ayat 259 dan Q.S. At-Taubah Ayat 30", dalam Jurnal Edu Riligia, Vol. III, No. 1, Tahun 2019.

Sufa, Rahmatul, dkk. “Implementasi Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural dalam Pelajaran Pendidikan Islam di SMP Swasta Rakyat Sei Glugur KecamatanPancur Batu”, dalam Jurnal Edu Riligia, Vol. III, No. 2, Tahun 2019.

Zakiyah, Qiqi Yuliati dan Rusdiana. Pendidikan Nilai: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: Pustaka Setia, 2014.




DOI: http://dx.doi.org/10.47006/er.v3i3.5621

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


_______________________________________________________________________

_______________________________________________________________________

EDU RILIGIA: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam dan Keagamaan

Ruang Jurnal
Pascasarjana UNIVERSITAS ISLAM NEGERI Sumatera Utara Medan
Jl. IAIN No.1, Gaharu, Kec. Medan Tim., Kota Medan, Sumatera Utara 20235, Sumatera Utara, Indonesia

Map Coordinate: Lat 3.6004988 " Long 98.6815599"

Creative Commons License
Edu Riligia by http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/eduriligia is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.