Komparasi Gender Representasi Diri Generasi Langgas Dalam Media Sosial Instagram

Edwi Arief Sosiawan, Rudi Wibowo

Abstract


Foto-foto yang diunggah oleh pengguna digital natives merupakan proses pemaknaan kembali hasil produksi pemotretan berupa representasi diri sebagai cara untuk mengkonstruksi identitas diri mereka. Foto yang diposting sebagai representasi diri ternyata tidak hanya mendapat respon yang bersifat normatif atau supportive dalam caption berupa comment atau like, tetapi juga memunculkan kasus-kasus dan permasalahan. Permasalahan terjadi ketika postingan foto digital natives memunculkan kesenjangan antara ide ekspresi diri dengan harapan penerimaan atas eksistensi identitas diri digital natives. Metode penelitian menggunakan paradigma kualitatif yaitu netnografi (virtual ethnography) untuk menafsirkan fenomena perilaku sehari hari digital natives dalam penggunaan Instagram. Data primer diperoleh dari interaksi hiperteks dengan para digital natives pengguna Instagram. Sedangkan untuk collecting data sekunder diperoleh  melalui observasi partisipasi dengan menggunakan media internet dan smartphone. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa unggahan foto dalam feed Instagram adalah upaya digital natives untuk memvisualisasikan identitas diri mereka dalam konteks momen dan kesenangan tertentu yang dominan digunakan untuk orientasi identitas diri dalam keseharian, kemewahan dan kreatifitas. Terdapat beberapa perbedaan antara digital natives pria dan perempuan dalam mengkonstruksi identitas diri mereka. Digital natives pria lebih menyukai menunjukkan diri sebagai person yang akrab dan bersahabat dan dekat dengan keluarga dalam keseharian, berorientasi menunjukkan identitas diri dengan representasi yang memvisualisasikan simbol-simbol yang dekat dengan kesukaan dan hobi mereka, serta menonjolkan hasil kreatifitas dengan menunjukkan alat yang digunakan utnuk memproduksi kreatifitas tersebut seperti kamera foto dan video. Sedangkan digital natives perempuan cenderung tidak menyukai pertunjukkan keseharian karena dianggap sebagai ranah privacy. Namun menyukai menunjukkan identitas diri mereka melalui fashion atau busana yang dikenal dengan OOTD serta menonjolkan produk kreatif mereka dan diri mereka sendiri. Selain itu Identitas diri yang dikonstruksi digital natives berubah menjadi instaidentity yang cenderung bersifat sama (common) dan mengarahkan pada jebakan objektifikasi dan instafamous. Rekomendasi penelitian berikutnya adalah membandingkan konstruksi identitas diri digital natives melalui media sosial lainnya, membandingkan konstruksi dengan identitas luring dan mengambil subjek penelitian digital natives generasi 4.0.

Kata kunci: digital natives, Identitas diri, Instagram.



Full Text:

PDF

References


Berger, Peter L, 1990, The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge, Gardn City NY.

Brenner, J., 2012. Social networking. Pew Internet and American Life Project. http://pewinternet.org/Commentary/2012/March/Pew-Internet-Social-Networking-fulldetail.aspx (diakses tanggal 13 September 2019).

Charon, Joel M, 2008. Symbolic Interactionism: an Introduction, an Interpretation, and Integration; with a chapter on Erving Goffman by Spencer Cahill. New Jersey: Prentice Hall. Inc

Friedman H, Schustack M (2016). Personality: Classic Theories and Modern Research (Sixth ed.). Pearson Education Inc. ISBN 978-0-205-99793-0.

Giddens, Anthony. 1991. Modernity And Self-Identity. Self And Society In Late Modern Age. Cambridge: Polity Press.

Georgiou, Myria, 2010, Diaspora, Identity, And The Media : Diasporic Transnationalism And Mediated Spatialities, Cresskill, NJ Hampton Press.

Giddens, Anthony, 1990, The Consequences of Modernity, Stanford University Press.

Giddens, Anthony, 1991, Modernity and Self-Identity Self and Society in the Late Modern Age, Stanford University Press.

Hall, Stuart, 1992, Who Needs Identity, in Hall, S and Du Gay, P (eds), Questions of Cultural Identity. London: Sage.

Hall, Stuart, 1996, The Question Of Cultural Identity, London: Sage.

Hall, Stuart, Du Gay, Paul, 1997. “Representations: Cultural Identity and Signifying Practices.” London: Sage Publication.

Hill, David T, Krishna Sen, 2005, The Internet in Indonesia's New Democracyi, London-New York, Routledge.

Hill Stephen, Bevis Fenner , 2010, Media and Culture Theory, Bookbon.

Kozinets, Robert V. 2009. Netnography: Doing Ethnographic Research Online. London: Sage.

Lenhart, A., Purcell, K., Smith, A., Zickuhr, K., 2010. Social media and mobile Internet use among teens and young adults, Pew Internet and American Life Projects Social Media http://pewinternet.org/~/media//Files/Reports/2010/PIP_Social_Me dia_and_Young_Adults_Report_Final_with_toplines.pdf (diakses 12 September 2019).

Mannheim, Karl, 1952, The Problem of Generations, Volume 5. New York: Routledge.

M. Hertlein Katherine, Markie L. C. Blumer, 2014, The Couple And Family Technology Framework: Intimate Relationships In Digital Age, Rouledtge, New York.

Montoya, Peter, 2002, The Personal Branding Phenomenon, Personal Branding Press / ISBN: 0967450616.

Prensky, Marc, 2001, "Generasi langgas, Digital Immigrants", MCB University Press, Vol. 9 No. 5, October 2001, halaman 1–6. .

Purwadi, Daniel H, 1997, Mengenal Internet jaringan Informasi Dunia, Elex Media Computindo, Jakarta.

Selwyn, N. (2009). The Digital Native: Myth And Reality. Aslib Proceedings: New Information Perspectives, 61(4), 364-379.

Snyder, CR; Lopez, Shane J, 2009, Oxford Handbook of Positive Psychology . Oxford University Press.

Tapscott, Don, 2009, Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your World, New York, Mc Graw Hill.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.