KELIMPAHAN LUMUT KERAK (LICHENS) SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS UDARA DI KAWASAN PERKOTAAN KOTA MEDAN

RASYIDAH RASYIDAH

Abstract


Peningkatan sektor transportasi di sekitar daerah perkotaan kota Medan semakin berkembang pesat. Hal tersebut sejalan dengan peningkatan polusi udara. Mempertimbangkan dampaknya pada ekonomi, kesehatan, dan lingkungan, polusi udara merupakan masalah lingkungan yang sangat mendesak untuk ditangani. Emisi yang dikeluarkan oleh masing – masing kendaraan menimbulkan akumulasi pencemar di udara. Lumut kerak dapat menunjukkan adanya perubahan keadaan, ketahanan tubuh, dan memberikan reaksi sebagai dampak perubahan kondisi lingkungan yang akan memberikan informasi tentang perubahan dan tingkat pencemaran lingkungan. Terkait dengan fungsinya sebagai bioindikator, maka keberadaan lumut kerak dapat digunakan sebagai bagian dari observasi penelitian dengan mengambil kawasan yang berbeda kondisi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa adanya perbedaan antara kawasan yang sedikit polusi (A3) dengan daerah yang banyak polusi udara (A1 dan A2). Pada lokasi pengamatan yang berada dekat dengan sumber pencemar ditemukan beberapa lumut kerak memiliki kecenderungan warna dari thallus adalah hijau kusam. Sedangkan kawasan A3 memiliki jumlah lumut kerak yang lebih banyak. Rata-rata diameter lumut kerak A1 adalah 2.25 cm; pada A2 adalah 3.3 cm, dan pada A3 adalah 1.75 cm. Perbedaan diameter tersebut tidak berbeda signifikan diantara ketiga kawasan tersebut.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 KLOROFIL: Jurnal Ilmu Biologi dan Terapan

Indexed By:

  

  

Flag Counter

 Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.